Reruntuhan takdir telah membelah daratan yang sedang kita pijak. Jarak terpanjang sedang terjadi diantara dua manusia pengharap akan sebuah keselarasan. Begitu lamanya langit menyaksikan perpisahan ini, bisikan angin terus menyerukan angannya untuk kebersamaan kita. Sama halnya dengan angin, sanubariku terus melaung-laung karna ia merindukanmu. “Hai”, mungkin itu sapaku jika suatu saat nanti pertemuan pertama itu terjadi. Banyak yang ingin aku ceritakan saat takdir telah mendorong kita untuk saling berhadapan, banyak yang ingin aku tanyakan saat kesunyian menghampiri waktu yang akan kita habiskan dan banyak yang ingin aku  bagikan saat dunia tak mampu lagi memberimu kebahagiaan. Raut wajahmu terlukis indah di dalam doaku, harapan macam apa yang sedang aku lakukan? 

Mmmm, kamu tahu? malam tadi, salah satu dari skenario Tuhan telah terjadi dan menyayat hati. Seseorang yang telah berdiri di sampingku itu ternyata bukan dirimu, dia hanya seorang nahkoda yang hanyut terbawa oleh ombak menuju hatiku, dan hari ini dia telah kembali berlayar meninggalkan kenangan ini tanpa kata selamat tinggal. Apa jarak yang sedang kamu tempuh masih jauh untuk aku capai? Aku lelah jika hanya berdiri bersama dengan penantian. Aku letih harus berhadapan dengan mereka yang datang lalu hilang seperti bintang yg termakan siang. Bukankah sebaiknya aku dan kamu hidup seperti semut? mereka tidak sungkan untuk saling menggenggam, mereka tidak segan untuk saling menguatkan, dan mereka tidak takut untuk saling beriringan walau mereka tahu rintangan lebih besar dibandingkan kekuatan mereka. 

Atau mungkin selama ini kesalahan terletak pada diriku? Apa mungkin kamu telah melewati bumi tempatku berpijak? Jika memang begitu, Pulanglah! Kembalilah! kali ini aku akan berhenti berlari dan menunggumu di dalam, kali ini aku akan lebih tenang dalam penantian.

Sumber Foto : hospitalityhedonist.co.za


Mimpi banyak diartikan sebagai bunga tidur, banyak juga yang mengatakan bahwa mimpi itu tujuan. Sebagai bunga tidur, mimpi mampu menciptakan sebuah pengalaman bawah sadar yang sulit untuk disampaikan dengan kata-kata dan akal pikiran, terkadang mimpi-mimpi itu bergerak bagaikan keanehan-keanehan bumi yang sulit untuk dijelaskan. Tak heran banyak penafsir mimpi yang terlahir di era kesejagatan yang serba modern ini. Saat mentari mulai bersinar, mimpi-mimpi itu dengan cepat pergi bersama cahaya bintang & sinar bulan, tanpa jawaban mereka pergi dengan berbagai pertanyaan.  Saat itulah isi kepalaku mulai memetakkan kemana mimpi itu akan dilanjutkan. Mungkin ini salah satu dari beribu-ribu keterbatasan hati manusia yang tidak mampu menjadi dalang dalam peranan setiap wayangnya, tidak mampu menjadi pengemudi di  setiap perjalanannya. Ya, hanya bisa menyaksikan bagaimana waktu membuat semua itu berjalan seolah imajinasi menarik segala keistimewaan dunia nyataku kepada alam bawah sadar, tidak sanggup untuk melarikan diri dari berbagai paksaan sugesti.  Walapun seribu bintang menjadi saksi akan keindahan atau keburukan mimpi, tidak akan ada manusia lain yang mengerti bagaimana mimpi ini sesungguhnya terjadi.

Sebagai tujuan, mimpi menghadirkan harapan yang entah kapan akan pulang. Kata-kata penyemangat menjadi pelindung agar tujuan tidak segera angkat kaki dari sang pemimpi itu sendiri. Banyak motivator menjadi pasukan dan pengawal agar ambisi tidak hanyut terbawa oleh arus keputusasaan, tetapi untuk seorang pemimpi yang sudah angkat tangan itu saja tidak cukup untuk menyusun kembali tujuan-tujuan yang telah hilang. Katanya berusaha sekuat tenaga menjadi kunci mimpi itu bisa diraih, tetapi pada kenyataannya sekarang, kata-kata itu membuat manusia saling sikut menyikut mencapai tujuan dunia yang fana ini. Apakah takdir mampu ditaklukan oleh usaha?

Siang ini keindahan bunga tidur menghampiri kelelahanku, tidak mudah untuk memutuskan terbangun saat alur cerita yang diharapkan sedang berlangsung di alam bawah sadar. Kali ini bukan cahaya bintang & sinar bulan yang merenggut mimpi indahku, tetapi seruan dari rintikan hujan untuk mengajakku melihat guyurannya membasahi bumi pertiwi ini. Aku masih berharap agar mimpi itu terus berlanjut tanpa ada jeda yang memisahkan, tetapi sekuat apapun aku mencoba mimpi-mimpi itu hilang dan mungkin tidak akan kembali. Masih dalam lamunan aku ingat kembali bagaimana mimpi mampu merubah suasana hatiku, merubah warna hidupku, dan merubah awan di langit yg tadinya menghitam kini kembali cerah seperti biasanya.  Sadar betul ini hanya sekedar mimpi maka aku nikmati setiap alurnya. Mungkin ini cara Tuhan menjawab setiap harapanku dan mencoba menyampaikan bahwa semua itu tidak sebaiknya terjadi di dunia nyata.  Dunia nyata yang penuh dengan realiti dan logika mungkin tidak seimbang dengan mimpi-mimpiku tadi, mungkin ini juga mengapa mimpi sebagai bunga tidur lebih diharapkan kedatangannya dibandingkan mimpi sebagai tujuan, mereka lebih indah di dunia semu sana dan lebih berkawan dengan imajinasi ini, walau terkadang terlihat lebih rumit dijelaskan oleh penalaran. Namun tujuan? mereka memaksakan kecepatan, ketepatan dan keyakinan menjadi sahabat manusia, jika itu semua terlalu lama menjadi angan-angan mereka akan pergi dengan menyisakan penyesalan di saat kegagalan datang. Ini yang menjadi alasanku tidak menjadi seorang pemimpi seperti manusia lain diluar sana, terlalu beresiko dan angkuh. Memaksimalkan hidup, waktu dan keadaan menjadi kunciku saat ini, karna hidup panjang tidak dapat aku perkirakan dan aku tidak tahu tujuan atau kematian kah yang lebih dahulu menjadi takdirku. Ternyata lamunan telah mengambil sebagian waktuku di sore ini, berangan-angan tentang bunga tidur dan dunia semunya membuat waktu di dunia nyataku terasa 2x lebih cepat berlalu, haruskah manusia bersahabat dengan bunga tidur dan dunia semu? Dengan begitu waktu dan takdir tidak mampu ditaklukan oleh usaha, dan juga manusia tidak akan saling sikut menyikut dalam berkehidupan ini,  karna mereka akan tertidur pulas dan mencapai tujuannya di dunia semu sana tanpa saling melukai.




Sumber Foto : http://www.aaronchoiphoto.com/spring1/






Pergulatan antara dimensi ego dan realiti mungkin telah di lalui banyak manusia. Petualangan yang entah kapan akan berakhir sedang "kita" lakukan detik ini, bahkan usaha terbesar telah dikeluarkan untuk menaklukan serangkaian persoalan kehidupan ini, yang pada kenyataanya usaha yang selama ini dilakukan hanya untuk sebuah perjalanan dan perubahan. Perubahan telah terikat dengan keputusan dan perjalanan sedang bergandengan erat dengan kepasrahan. Memang tidak mudah menaklukan rintangan yang datang, tapi apa boleh buat waktu tidak mampu berehat. 

Mendung telah menyapaku pagi ini, satu hari lagi perjalanan akan aku lewati. Kali ini aku membuat satu keputusan untuk melepaskan hal yang begitu besar, hal yang saat ini masih sulit untuk aku biarkan pergi. Aku berdebat panjang semalaman dengan batin ini, sanggahan demi sanggahan aku sampaikan kepada relung hati terdalam. Ketakutan yang tidak dapat terbendung menghampiriku yang tengah terombang-ambing di langit kepasrahan. Sekali lagi, aku tidak mampu menahan "mereka" yang memilih untuk melanjutkan petualangannya dan meninggalkan aku yang telah berehat sejenak, tubuhku rapuh sendirian di dalam ruang yang tadinya hangat dan terang. Aku memilih untuk beristirahat sejenak, tapi "mereka" memilih untuk terus berlari. Setiap hari aku selalu bertanya kepada minggu, sejauh mana lagi perjalanan akan aku tempuh? setiap pagi aku bertanya kepada malam, perubahan apa lagi yang akan terjadi? setiap hujan aku bertanya kepada awan, keputusan apa lagi yang akan aku buat? dan setiap bernafas aku bertanya kepada Tuhan, kepasrahan apa lagi yang akan aku korbankan? Pertanyaan-pertanyaan itu telah merasuki akal sehatku, rasanya keputusan dan perubahan telah membuat nyalikku menciut dan mengerut. Bukan hanya itu, perubahan tiba-tiba membuat aku merindukan keramaian, membuat aku membenci keheningan dan membuat aku takut akan perjalanan yang sunyi.

Kekecewaan menghampiri kesendirianku. Mengapa perubahan mampu menyapu keberanian yang biasanya bersahabat denganku? mengapa keputusan mampu menggoyahkan keyakinanku? Detik ini, pagi menjelang siang, keputusan telah berhasil lagi aku ciptakan. Aku bunuh satu persatu pertanyaan yang dari tadi malam aku ciptakan, aku panah satu persatu ketakutan yang ada, dan aku kubur kekhawatiran yang telah terbendung semalaman. Melanjutkan penjelajahan dan menyambut perubahan di esok hari akan aku persiapkan. Aku relakan "mereka" yang telah bahagia dengan petualangannya, aku tutup pintu ruang itu dengan rapat agar seseorang tidak memilih berdiam diri dan ditinggalkan oleh petualang lain layaknya aku, dan yang terakhir aku pastikan tidak akan adanya peristirahatan selanjutnya, berjalan bahkan berlari akan aku lakukan meski kelelahan menghampiri, tidak ada sekalipun niatku untuk beristirahat atau bahkan terjatuh. Karna terluka akan membuat perjalananku semakin panjang.


Sumber Foto : http://rebloggy.com/




Tiang-tiang cahaya menjulang di setiap sudut kota, cahaya kuning yang berpadu dengan oranye,  membuat kota yang saat ini aku singgahi terlihat begitu hangat. Untung saja kendaraan yang berlalu-lalang malam ini tidak terlalu padat dan cukup ramai, membuat jalanan terasa sejuk namun tidak sunyi. Tarikan nafasku begitu menikmati setiap udara yang telah menunggu untuk aku hirup, mereka berlari-lari sambil menerbos masuk kedalam paru-paru ini. Rasa sesak yang dari pagi aku rasakan ternyata telah terbawa oleh hilir angin sejuk yang saat ini sedang asyik menari di sekelilingku, andai boleh aku bawa pulang, akan aku berikan angin ini kepada mereka yang berkata bahwa "angin malam membawa kematian".

Lampu-lampu kota ternyata juga menyambut kedatanganku, cahaya oranye yang membuat tubuh ini terasa tenang, telah tersenyum lebar dan mempersembahkan cahayanya untuk perjalananku malam ini. Dari beribu-ribu lampu kota yang pernah aku lihat, mungkin ini yang benar-benar membuat jantungku berdegup kencang, mereka cantik dan anggun. Ada satu sudut yang membuatku terdiam namun hati ini melayang, melayang diantara kemilaunya. Satu hal yang membuat aku terkagum-kagum dengan malam ini, mereka (lampu-lampu) itu membuat kenangan yang selama ini aku simpan, kembali terputar seperti film bertajuk nostalgia. Aku tertawa kecil, bagaimana bisa sebuah lampu dan cahaya biasa, mampu dengan cepatnya meretas kenangan-kenangan yang selama ini aku simpan dengan apik.

Dalam kemilaunya mereka seakan berkata "Ingatkah kau ketika langit mendung dan bahagiamu setinggi gunung? Ketika malam tiba namun matamu tetap berjaga, hanya untuk menunggunya?", dalam gema mereka seakan membawa ragaku kembali memerankan peran yang sudah lama aku tinggalkan. Sekuat tenaga raga ini mencoba melawan ajakanya, tetapi pada kenyataannya hatiku berlari mengejar setiap kenangan yang seharusnya terabaikan, berjalan seiring dengan kejadian yang tidak mudah untuk dilupakan. Yang paling mengejutkan di malam ini ternyata angin malam ikut terlibat dalam aktivitas nostalgiaku, mungkin sekarang mereka sedang mengolok-olokku, dan berkata "Ini kenangan ! ini keindahan ! ini tangisan !", aku tersadar inilah yang disebut dengan angin malam yang membawa kematian, ternyata dibalik kesejukanya mereka menikam masuk ke tulang rusuk terdalam, diantara sambutannya mereka menyayat hati yang telah mengenang. Bagaimanapun angin malam telah membuat hati ini bertakjub gembira dan memujinya.

Sepertinya malam ini relasi antara lampu kota dengan angin malam telah mampu mengalahkan egoku.  Mataku dengan sukarelanya berjaga sampai hati ini puas mengingat berbagai kejadian yang telah aku lewati, ini terbukti bahwa rindu dan kenangan mampu membuat manusia yang lelah sepertiku bisa kembali tersenyum seakan hari baru saja dimulai. Sebenarnya selama ini bukan kenangan yang aku benci, tetapi ketika telah mengenang bagaimanapun akhirnya pasti akan menyisakan satu keperihan, entah itu keperihan untuk kebahagiaan atau hanya keperihan untuk merelakan.

Sumber Foto : http://img.diytrade.com/


Ku awali pagi ini seperti biasa, tak ada yang berbeda, sama seperti semula. Matahari telah memancarkan sinarnya di horizon timur sana. Pagi yang cerah seakan memelukku dan berkata "Teruslah melangkah, ini pagi pertama diumurmu yang beranjak kepala dua". Ya, ini hari pertama aku hidup sebagai manusia berusia 20 Warsa, rasanya telah banyak harapanku yang telah terlaksana. Tentu saja ini semua tidak akan terjadi tanpa ijin dari Yang Maha Kuasa, ucapan syukur telah menjadi bagian utama dalam perjalananku di dunia. Bahagia, kecewa dan terluka memang tidak pernah luput dari ekspresi manusia, pelajaranlah yang dapat diambil dari itu semua.

Hari ini 21 April 2016, tepat pukul 19.33, aku merasa Tuhan telah banyak memberikanku cendra mata, tidak ada yang istimewa, sederhana dan biasa namun raga ini terlihat bahagia dan tertawa. Aku yang kemarin remaja, kini telah menjadi seseorang yang dewasa, suatu proses pertumbuhan manusia dewasa akan berlangsung di hari-hariku selanjutnya. Hujan pun memberikan beberapa katanya untuk memeriahkan pergantian usiaku di tengah gulap gulita, memberiku semangat untuk menjalani hidup berikutnya yang luar biasa. Beberapa hal akan terasa berbeda, Aku yang saat ini menjadi wanita dewasa akan melahirkan beberapa harapan yang berbeda, tujuan yang berbeda dan tentu saja akan ada kekhawatiran yang berbeda, ku sebut itu sebuah revolusi alam semesta.

Telah banyak hal yang terjadi dan semua itu memberikanku suatu pembelajaran yang akan aku analisa untuk pengalamanku selanjutnya,  tidak ada yang terduga dengan segala peristiwa dan tidak ada yang harus aku sesali hanya perlu menerima,karna aku percaya segala sesuatu yang telah terjadi memberikanku sebuah makna.

Sumber Foto : http://www.lovethispic.com/