Tujuh dari minggu terdapat suatu tempat yang tak pernah terjamah oleh waktu, tempat itu masih saja berdebu oleh kejamnya rindu, setia menunggu sang penutup pintu yang menggetarkan kalbu. Berdustalah jika aku tak merindu,  membekam suara hati yang terus berteriak akan namamu, tapi Tuhan tak pernah miliki restu. Kalbu berseru tapi waktu membisu, senyummu meranggu seluruh duniaku.

Mula-mula melafalkan namamu seperti jarum yang menusuk kain, sakit namun mereparasi. Menikmati kesakitan akan merindukanmu seperti ramuan yang menyegarkan sekaligus meruntuhkan. Tapi kemudian aku sangat berani menyebut namamu, bahkan dalam doaku, senyummu mengetuk pintu hati yang telah lama berdebu. 

Kemudian... 

Selanjutnya... 

Pintu itu telah berhasil terbuka,  menerbangkan sejuta rindu. Retina ini menangkap satu pahatan karya Tuhan yang amat hati ini inginkan, tapi itu semua hanya dapat aku lihat tak dapat aku jamah. Wajahmu seperti seni rupa yang tak bisa aku miliki, bukan aku tak mampu menebusnya namun karna seseorang telah terlebih dahulu membawamu menjadi koleksinya.

Robohlah pintu yang berumur itu, langkah kakimu semakin menjauh, ragamu semakin tertelan jarak. Bawalah segala harapan indah ini semuanya, aku tak mampu lagi mengenggamnya.
Bawalah segala mimpi buruk ini, aku tak sanggup terbangun tanpa melihatmu kembali.

Bawalah bawalah bawalah...

Bersama dengan rasa yang tak pernah berhasil di daulat oleh Tuhan.

Sumber Foto : http://www.thisiscolossal.com/

Senja sudah tak sanggup menahan malam, ini pertengahan tahun yang manusia nantikan dan dijadikan sebagai pertimbangan akan harapan yang bersemayam, melepaskan seluruh harapan untuk diwujudkan. Detik terus berjalan, hari terus bertukar dan tahun terus digantikan, bermetamorfosis menjadi sesuatu yang lebih dari sekedar organisme terpintar dalam kerajaan hewan. Melihat manusia saling menceritakan pengalaman, membuatku ingin sedetik saja di dalam ketenangan, seperti tinggal landas mengudara menuju bulan, meninggalkan habibat yang selama ini menjadi tempat tinggal. Andai boleh berganti peran, mungkin mempunyai sayap lebih menyenangkan, terbang di atas awan dan mendengarkan harmoni yang alam suguhkan, bernyanyi mengikuti suara angin yang terus bergoyang.

Awal pertengahan tahun ini senja sudah tak menarik lagi, padahal selama ini di penghujung hari aku selalu menunggu senja segera tiba, tapi hari ini hatiku terus berdoa agar pagi segera menyapa, melihat surya menerangi jagat raya, seperti menunggu matahari memberikan cahayanya untuk aku yang sedang berfotosintesis, seperti melupakan sejuta kenangan dengan malam yang nyatanya selalu merampas oksigen yang telah aku kumpulkan. Aku rasa selama ini malam sudah membuatku dimabuk kepayang akan kenangan, bahkan beberapa tulisan selalu ada kata malam yang aku sisipkan, rasanya tidak adil jika aku terus menganggumi malam yang terus membuatku kelelahan, sedangkan pagi dan siang yang selalu menerangi pertumbuhan dan perkembanganku selalu diabaikan. Mungkin ini yang dikatakan manusia bergaya hidup nomadisme, nekat mengembara demi mendapatkan sesuatu yang lebih menyenangkan dan menenangkan dari sekarang.

Hidup selalu berbagi, bertahan dengan kenangan atau menyambut masa depan, keluar dari kandang yang nyaman atau megembara ke hutan yang penuh dengan rintangan, berdiam di dalam sangkar yang penuh dengan kenyamanan atau terbang bebas menyusuri setiap awan, semua itu berbagi akan pilihan.  Aku sadar, tidak semua hal yang membuat nyaman itu baik untuk pertumbuhan, terkadang tindakan yang di luar dugaan harus dilakukan demi suatu perubahan, biarlah yang telah menjadi kenangan menjadi satu penemuan yang akan menjadi sejarah yang dijadikan suatu penemuan bukan untuk terus di kenang dan di rindukan. Senja yang kemarin telah menarik hatiku telah berhasil digantikan oleh pagi dan siang, biarlah setiap waktu mempunyai ruang tersendiri di hati ini.


Sumber Foto : https://www.negativepregnancytest.com/wp-content/uploads/2014/02/Pregnancy-Test-At-Night-vs-Morning.jpg



Rahasia yang tak terungkap dari sang Maha Karya menjadi penantian selama manusia termakan usia. Manusia, alam semesta, dan seisinya mungkin telah bersepakat dan menciptakan rahasia pribadi dengan-Nya, sehingga salah satu diantara karyanya membuat manusia terperanga dan bertanya-tanya, apa alam semesta telah bersepakat membuat sebuah kata luka? Kemudian manusia mulai melukai dan dilukai, disamping karyanya yang begitu menakjubkan kemegahan yang diciptakan luka mampu menyita segala waktu yang tersisa, seperti pagi ini tak terasa senja telah terhampar setelah matahari mejemput malam yang berputar, tapi mengapa luka ini tak ikut pulang bersama keheningan nuansa malam dan redupnya cahaya bulan? mereka malah semakin menjalar dan menyebar melewati setiap udara yang alam berikan.

Maret telah berhasil digantikan April, satu lagi luka yang berhasil alam berikan di sela kehingan yang aku rasakan. Banyak punjangga menyairkan suatu karyanya dengan kata luka, apa aku menjadi salah satunya? Tapi aku bukan seorang punjangga, aku hanya manusia yang sedang disapa oleh perihnya lantunan luka. Mengapa? Ya mengapa? Mengapa menyembuhkan luka begitu sakit daripada lukanya itu sendiri, apa angin mulai membantu alam untuk membuat luka ini semakin perih dan semakin pedih? Mungkinkah para pujangga tidak melanjutkan untaian katanya ketika goresan luka sampai di dasar hati setiap pemiliknya? mungkin seperti yang aku rasakan hari ini, tidak ada yang bisa aku rangkai dan untai karna ngilu ini telah berhasil menjalar disekujur tubuhku yang semakin kaku. Tidak heran mengapa setiap bait puisi luka selalu ada akhir yang tidak dapat diterima dengan nalar manusia. 

Setiap kesepakatan akan ada pihak yang dirugikan atau diuntungkan, atau bahkan keduanya. Ini menjadi koleksi pertanyaanku kepada alam semesta, apa yang mereka dapatkan dari manusia yang terluka? sebuah aduan? atau sebuah rengekan dari manusia yang berhasil dilumpuhkan oleh luka dan menggongong bagai serigala yang merindukan bulan purnama? kali ini dari suatu yang jauh di tengah luka yang aku rasakan, aku tertawa bagaimana bisa manusia menangisi sesuatu yang tidak kasat mata? bagaimana bisa para pujangga menggantungkan katanya karna hanya candaan alam semesta? Mungkin pagi ini alam semesta banyak tertawa karna semakin terhampar manusia yang menangis hanya karna luka. Aku bukan mereka, aku bukan candaan alam semesta, aku bukan bagian dari kesepakatan alam semesta dan karya-Nya, aku tidak akan menggantungkan kata dalam tulisanku kali ini. Aku putuskan menutup luka ini agar alam semesta tak menyapa, aku paksakan terus berjalan kedepan walau akan sulit untuk melangkah menuju masa yang akan datang, tapi aku percaya perlahan luka ini akan hilang tanpa meninggalkan setitik bekas yang tertinggal.

Sumber Foto : http://tamsubuon.net


Reruntuhan takdir telah membelah daratan yang sedang kita pijak. Jarak terpanjang sedang terjadi diantara dua manusia pengharap akan sebuah keselarasan. Begitu lamanya langit menyaksikan perpisahan ini, bisikan angin terus menyerukan angannya untuk kebersamaan kita. Sama halnya dengan angin, sanubariku terus melaung-laung karna ia merindukanmu. “Hai”, mungkin itu sapaku jika suatu saat nanti pertemuan pertama itu terjadi. Banyak yang ingin aku ceritakan saat takdir telah mendorong kita untuk saling berhadapan, banyak yang ingin aku tanyakan saat kesunyian menghampiri waktu yang akan kita habiskan dan banyak yang ingin aku  bagikan saat dunia tak mampu lagi memberimu kebahagiaan. Raut wajahmu terlukis indah di dalam doaku, harapan macam apa yang sedang aku lakukan? 

Mmmm, kamu tahu? malam tadi, salah satu dari skenario Tuhan telah terjadi dan menyayat hati. Seseorang yang telah berdiri di sampingku itu ternyata bukan dirimu, dia hanya seorang nahkoda yang hanyut terbawa oleh ombak menuju hatiku, dan hari ini dia telah kembali berlayar meninggalkan kenangan ini tanpa kata selamat tinggal. Apa jarak yang sedang kamu tempuh masih jauh untuk aku capai? Aku lelah jika hanya berdiri bersama dengan penantian. Aku letih harus berhadapan dengan mereka yang datang lalu hilang seperti bintang yg termakan siang. Bukankah sebaiknya aku dan kamu hidup seperti semut? mereka tidak sungkan untuk saling menggenggam, mereka tidak segan untuk saling menguatkan, dan mereka tidak takut untuk saling beriringan walau mereka tahu rintangan lebih besar dibandingkan kekuatan mereka. 

Atau mungkin selama ini kesalahan terletak pada diriku? Apa mungkin kamu telah melewati bumi tempatku berpijak? Jika memang begitu, Pulanglah! Kembalilah! kali ini aku akan berhenti berlari dan menunggumu di dalam, kali ini aku akan lebih tenang dalam penantian.

Sumber Foto : https://www.anderslonnfeldt.com/


Mimpi banyak diartikan sebagai bunga tidur, banyak juga yang mengatakan bahwa mimpi itu tujuan. Sebagai bunga tidur, mimpi mampu menciptakan sebuah pengalaman bawah sadar yang sulit untuk disampaikan dengan kata-kata dan akal pikiran, terkadang mimpi-mimpi itu bergerak bagaikan keanehan-keanehan bumi yang sulit untuk dijelaskan. Tak heran banyak penafsir mimpi yang terlahir di era kesejagatan yang serba modern ini. Saat mentari mulai bersinar, mimpi-mimpi itu dengan cepat pergi bersama cahaya bintang & sinar bulan, tanpa jawaban mereka pergi dengan berbagai pertanyaan.  Saat itulah isi kepalaku mulai memetakkan kemana mimpi itu akan dilanjutkan. Mungkin ini salah satu dari beribu-ribu keterbatasan hati manusia yang tidak mampu menjadi dalang dalam peranan setiap wayangnya, tidak mampu menjadi pengemudi di  setiap perjalanannya. Ya, hanya bisa menyaksikan bagaimana waktu membuat semua itu berjalan seolah imajinasi menarik segala keistimewaan dunia nyataku kepada alam bawah sadar, tidak sanggup untuk melarikan diri dari berbagai paksaan sugesti.  Walapun seribu bintang menjadi saksi akan keindahan atau keburukan mimpi, tidak akan ada manusia lain yang mengerti bagaimana mimpi ini sesungguhnya terjadi.

Sebagai tujuan, mimpi menghadirkan harapan yang entah kapan akan pulang. Kata-kata penyemangat menjadi pelindung agar tujuan tidak segera angkat kaki dari sang pemimpi itu sendiri. Banyak motivator menjadi pasukan dan pengawal agar ambisi tidak hanyut terbawa oleh arus keputusasaan, tetapi untuk seorang pemimpi yang sudah angkat tangan itu saja tidak cukup untuk menyusun kembali tujuan-tujuan yang telah hilang. Katanya berusaha sekuat tenaga menjadi kunci mimpi itu bisa diraih, tetapi pada kenyataannya sekarang, kata-kata itu membuat manusia saling sikut menyikut mencapai tujuan dunia yang fana ini. Apakah takdir mampu ditaklukan oleh usaha?

Siang ini keindahan bunga tidur menghampiri kelelahanku, tidak mudah untuk memutuskan terbangun saat alur cerita yang diharapkan sedang berlangsung di alam bawah sadar. Kali ini bukan cahaya bintang & sinar bulan yang merenggut mimpi indahku, tetapi seruan dari rintikan hujan untuk mengajakku melihat guyurannya membasahi bumi pertiwi ini. Aku masih berharap agar mimpi itu terus berlanjut tanpa ada jeda yang memisahkan, tetapi sekuat apapun aku mencoba mimpi-mimpi itu hilang dan mungkin tidak akan kembali. Masih dalam lamunan aku ingat kembali bagaimana mimpi mampu merubah suasana hatiku, merubah warna hidupku, dan merubah awan di langit yg tadinya menghitam kini kembali cerah seperti biasanya.  Sadar betul ini hanya sekedar mimpi maka aku nikmati setiap alurnya. Mungkin ini cara Tuhan menjawab setiap harapanku dan mencoba menyampaikan bahwa semua itu tidak sebaiknya terjadi di dunia nyata.  Dunia nyata yang penuh dengan realiti dan logika mungkin tidak seimbang dengan mimpi-mimpiku tadi, mungkin ini juga mengapa mimpi sebagai bunga tidur lebih diharapkan kedatangannya dibandingkan mimpi sebagai tujuan, mereka lebih indah di dunia semu sana dan lebih berkawan dengan imajinasi ini, walau terkadang terlihat lebih rumit dijelaskan oleh penalaran. Namun tujuan? mereka memaksakan kecepatan, ketepatan dan keyakinan menjadi sahabat manusia, jika itu semua terlalu lama menjadi angan-angan mereka akan pergi dengan menyisakan penyesalan di saat kegagalan datang. Ini yang menjadi alasanku tidak menjadi seorang pemimpi seperti manusia lain diluar sana, terlalu beresiko dan angkuh. Memaksimalkan hidup, waktu dan keadaan menjadi kunciku saat ini, karna hidup panjang tidak dapat aku perkirakan dan aku tidak tahu tujuan atau kematian kah yang lebih dahulu menjadi takdirku. Ternyata lamunan telah mengambil sebagian waktuku di sore ini, berangan-angan tentang bunga tidur dan dunia semunya membuat waktu di dunia nyataku terasa 2x lebih cepat berlalu, haruskah manusia bersahabat dengan bunga tidur dan dunia semu? Dengan begitu waktu dan takdir tidak mampu ditaklukan oleh usaha, dan juga manusia tidak akan saling sikut menyikut dalam berkehidupan ini,  karna mereka akan tertidur pulas dan mencapai tujuannya di dunia semu sana tanpa saling melukai.




Sumber Foto : https://www.pinterest.com/moodycollective/